Showing posts with label balada karyawan. Show all posts
Showing posts with label balada karyawan. Show all posts

Thursday, June 2, 2016

Boss Tidak Pernah Salah

Dalam dunia kerja hanya ada dua peraturan yang berlaku :
Pertama : Boss tidak pernah salah,
Kedua    : Kalau pun salah maka lihat lihat peraturan pertama.

Seorang kawan pernah punya pengalaman seperti ini. Pada suatu hari dia disuruh membuat report evaluasi tahunan hari itu juga.

Dia jawab,"Boss saya lagi ngejar project yang telat."
Jawab bossnya,"itu mah nanti saja. Yang penting kerjakan report evaluasinya."
Akhirnya kawan ini menerjakan report evaluasinya.

Besoknya, bossnya bertanya,"Bagaimana dengan project-nya?"
"Jadi telat Boss."
"Kok project-nya jadi telat?"
Spontan kawan menjawab,"saya kan kemarin ngejar report evaluasi tahunan."
Bossnya langsung marah,"Enggak bisa begitu. Project-nya juga penting. "
Kawan langsung membela diri, "Boss juga jangan berubah dong. Kemarin bilang nanti aja, sekarang harus dikejar."

Bossnya membalas, "Bukan boss namanya kalo enggak berubah - rubah."
"Iya boss. Tapi jangan marah Boss."
"Tahu enggak? Kamu digaji, salah satunya adalah untuk dimarahi!!!"

Atau ada contoh yang lain.
"Indra, mengapa produk yg masalah di pasaran yg tidak dibahas dalam laporan?" Tanya Boss.
"Sudah ada dalam laporan mingguan saya." Jawab Indra.
"Saya sudah baca, kayaknya terlewat. Harus dibold judulnya."
"Sudah saya bold, judulnya."
"Tetap tadi terlewat, coba fontnya diberi warna merah untuk exception.
"Sudah Pak."
"Kapan kamu kirim laporan?" 
"Kemarin Pak."
"Nah...harusnya dua hari sebelumnya. Saya enggak sempat baca."
"Minggu lalu lalu Bapak bilang kalau 2 hari sebelumnya, Bapak terlewat sama email yg lain."
"Ya pokoknya, saya harus bisa baca laporan kamu..."

........................

Wednesday, September 9, 2015

Balada Karyawan #17 Mengapa Seorang Manager Belum Mempunyai Mobil?

Mobil.

Pada beberapa perusahaan,  mobil adalah salah satu fasilitas selain gaji yang diberikan kepada karyawannya. Biasanya ini untuk posisi manager ke atas. Bentuk pengadaannya, bisa perusahaan berikan mobilnya atau uangnya.

Saya adalah salah seorang karyawan di sebuah perusahaan PMDN di negeri ini. Masa kerja saya sudah lebih dari sepuluh tahun dan saya mempunyai jabatan di atas supervisor. Namun sampai saat ini saya belum memiliki kendaraan. Saya masih menggunakan kendaraan umum atau sepeda motor yang sudah lunas kreditnya.

Ketidakpunyaan mobil telah mengusik salah seorang karyawan. Beberapa kali dia bertanya mengapa saya belum memiliki mobil.

"Pak, sudah punya mobil belum?"
"Belum." Jawab saya.
"Kenapa?"
"Uangnya belum ada."


Memang jawaban itu merupkan jawaban yang paling aman untuk saat ini. Tapi bisa saja jawaban saya ini membuat sang karyawan ini semakin keheranan : sudah lebih sepuluh tahun kok belum bisa beli mobil?

Pasti dalam fikiran anda - anda semua bertanya - tanya berapa sih saya digaji sampai saya tidak bisa beli mobil sampai saat ini.

Kalau boleh menjelaskan ada beberapa alasan, saya belum memiliki mobil.
1. Berdasarkan saran orang, untuk amannya kondisi keuangan kita. Belilah mobil yang harganya adalah 50% dari gaji kita setahun. Setelah menghitung dengan rumus ini, maka saya belum bisa beli mobil baru. Saya harus beli mobil bekas harga 70 - 75 jutaan.

2. Belilah mobil secara tunai. Karena ketika mobil itu dibeli, langsung nilainya turun. Beda dengan rumah atau tanah. Makanya saya berusaha tidak memaksakan diri untuk mengambil kredit mobil.

3. Sebelum beli, fikirkan baik - baik. Harga mobil tidak murah, begitu juga ongkos perawatannya, bayar pajaknya dan konsumsi bahan bakarnya. Kalau belum membutuhkan kita bisa memakai kendaraan umum atau sewa mobil.

Sekarang kondisi saya, untuk mengumpulkan down payment-nya saja belum bisa, apalagi cicilan dan biaya - biaya yang disebutkan di atas.

Itu alasan  saya mengapa sampai saat ini belum memiliki mobil, walau pun dalam hati kecil saya ini ingin sekali memilikinya. Mudah - mudahan tahun depan bisa terbeli ya. Aamiin.

seorang manager di sebuah pabrik.

Thursday, June 25, 2015

Balada Karyawan #16 Atasan Yang Bikin Geleng Geleng Kepala

Hallo para karyawan sejati di mana pun Anda berada. Kali ini saya mau menceritakan salah satu boss saya.

Ada beberapa hal tindakannya yang bisa bikin geleng - geleng kepala. Namun apa boleh buat, karena dia boss saya ya kita ikut saja. Ditambah lagi dia adalah salah satu pemilik dari perusahaan dimana saya bekerja.  Sudah lengkaplah semuanya.

Sebagai informasi buat para karyawan sejati, saya bekerja di sebuah perusahaan keluarga. Bapak, ibu, anak dan menantu serta beberapa sanak saudaranya ikut bahu membahu menjalankan perusahaan ini.

Impulsif
Boss saya ini impulsif. Kalau di kepalanya terlintas sebuah ide yang menarik, maka dia bisa mengumpulkan kami semua secara mendadak untuk mendengarkan paparan dia mengenai ide tersebut. Dan ini bisa memakan waktu berjam - jam. Dan yang bikin geleng - geleng kepala, kadang - kadang idenya tidak bisa langsung dieksekusi. Bisa jadi karena susah dieksekusi atau karena hal - hal yang lain juga belum selesai untuk dieksekusi. Malah kadang - kadang bisa jauh dari apa yang kita kerjakan sekarang.

Pernah dalam sebuah meeting rutin bulanan dia masuk ke dalam forum. Bukannya membahas agenda meeting yang sudah disiapkan jauh - jauh hari, eh dia malah membawa topik yang berbeda. Dan maaf yang bikin kita kesal adalah gara - gara dia, waktu kita jadi tersita dan agenda yang sudah ada jadi berantakan. Meeting yang susah payah dipersiapkan menjadi tidak ada artinya karena tidak ada keputusan yang dihasilkan. Karena tindakannya pemimpin rapatnya kehilangan mood untuk melanjutkan rapat.

Menabrak aturan
Sebagai seorang atasan, hendaknya boss saya ini memberikan teladan dalam mentaati aturan - aturan perusahaan. Kadang - kadang ini malah sebaliknya. Misalnya : ketika Pak Direktur mewajibkan untuk membuat laporan, notabene adalah bapaknya, boss saya terang - terangan mengatakan ini, "Buat apa buat laporan, yang penting kerja saja." Pernyataan dia ini jelas membuat kita bingung. Yang satu menyuruh membuat laporan, eh yang satunya lagi melarangnya. Terus terang kami jadi bingung. Akhirnya kami ada yang buat laporan ada yang tidak.

Terlalu Menggampangkan
Yang dimaksud dengan menggampangkan di sini adalah kalau suatu kesalahan terjadi dia menggampangkan begitu saja. Misalnya ketika membuat sebuah bangunan baru. Bisa jadi dalam proses pembangunan bisa dua tiga kali dibongkar. Alasannya kurang sesuai dengan keinginan. "Saya kurang setuju sama bentuknya. Bongkar saja." Tidak peduli pondasi sudah dibuat dan sudah naik bata. Kalau harus dibongkar ya dibongkar.

Pernah mandornya mengungkapkan isi hatinya kepada saya. Mengeluhkan proses bongkar pasang padahal sebagian sudah jadi.
"Yang penting Bapak tetap digaji." Jawab saya.
"Iya Mas. Tapi sayang bahan - bahannya." Balas sang mandor.
Saya langsung terdiam.

Proses bongkar - bongkaran ini disebabkan oleh perencanaan yang kurang matang. Nah, perencanaan yang kurang matang ini juga karena sifat dia yang terlalu mengampangkann." Sudah ini mah gampang. Langsung saja dikerjakan," begitu katanya.

Dan kebiasaan menggampangnkannya ini merembet kemana - mana. Kalau sudah terjadi masalah kita jadi pusing untuk menanggulanginya. Untungnya boss saya ini mau bertanggung jawab kalau ada masalah. Tidak lempar batu sembunyi tangan.

Terkadang, saya suka bicara dalam hati bahwa boss saya ini bisa begini bisa begitu; mengelola dengan gayanya dia, karena dia bekerja di perusahaannya sendiri. Coba kalau bekerja di perusahaan orang lain belum tentu.

Dan kami sering berdoa, mudah - mudahan boss saya yang satu ini segera terbuka mata hatinya. Karena apa - apa yang dilakukannya ini bisa membahayakan kondisi perusahaan. Ya Tuhan kabulkanlah permohonan kami ini. Aamiin.

Ini boss saya, mana boss Kamu?

Thursday, March 19, 2015

Balada Karyawan #15 Cerita Menantu Direktur

Terkadang memang benar ungkapan bahwa istri seorang jenderal lebih berkuasa dari jenderalnya itu sendiri. Dan aku semakin percaya 1000% karena aku telah menjadi "korbannya".

Kebetulan aku sekarang bekerja di sebuah perusahaan keluarga di daerah Jakarta. Bapak bertindak sebagai komisaris, ibu sebagai direktur dan kelima anak beserta menantunya menjadi manager - manager-nya.

Perusahaan ini dikelola dengan rasa kekeluargaan dan sikap saling percaya antara pemilik dan karyawannya yang cukup tinggi. Maka tak heran banyak karyawan yang sudah belasan bahkan puluhan tahun bekerja di sini tanpa adanya surat pengangkatan sebagai karyawan. Karena kami percaya bahwa pemiliknya ini adalah orang baik - baik. Mereka tidak akan mengeluarkan orang tanpa alasan yang jelas. Bagi kami mudah untuk menjumpai para pemilik ini dan bertegur sapa tanpa diikat oleh prosedural birokrasi.

Namun walau pun, diantara kenikmatan ini tetap ada bagian kecil yang kurang enak. Ya, itulah hidup. Tidak ada yang enak 100% atau tidak enak 100%. Dari ketiga anaknya, anak pertama dan kedua laki - laki serta anak ketiga perempuan, hanya anak perempuannya yang belum menikah. Kedua menantu dari ibu bapak dilibatkan dalam pengurusan perusahaan ini bersama perusahaan bersama suami - suami mereka. Salah satu dari menantu direktur ini ada yang mirip - mirip dengan ungkapan di awal tulisan ini.

Walau pun dia hanya seorang menantu direktur, kadang - kadang kekuasaannya melebihi pemiliknya sendiri. Terkadang aku merasa, walau pun terkesan subyektif, dia ingin segala perintahnya dilaksanakan. Padahal bisa jadi kalau perintahnya belum dilaksanakan karena memang masih ada hambatan atau ada prioritas yang harus dikerjakan. Dan celakanya, kalau kita tidak melaksanakan perintahnya, dia bisa - bisa membawa mertua, pemilik perusahaan ini, untuk menegur kita. Dan aku benar - benar pernah mengalaminya.

Sejauh ini yang aku ingat ada dua kejadian karena saking berkesannya. Yang pertama, waktu aku di staff quality control dan menantu direktur ini sebagai staff marketing.Suatu hari aku email dari menantu direktur ini. Dia meminta aku untuk mencarikan beberapa sampel pertinggal product untuk dianalisis terkait dengan permasalahan kualitas di pasaran. Kebetulan aku sedang sibuk dengan urusan lain. Permintaannya tidak dapat dipenuhi dengan cepat. Dan benar sekali kawan, aku didatangi oleh ibu direktur. Dia menegur saya.
"Mas, kenapa pesanana Mbak **** belum dikerjakan?"Tanya Bu Direktur. Dia bertanya dengan sopan.

Kontan aku kaget dan aku hanya bisa menjawab "iya" "iya" dan langsung mengerjakan apa yang diminta. Saat itu dapat dan saat itu pula aku kirim ke kantornya. Aku tidak mau cari perkara.

Kejadian yang kedua. Masalah air. Dalam sebuah percakapan email saya dan menantu direktur ini berbeda pendapat mengenai masalah air. Setelah itu diskusi yang cukup panas ini berakhir saya menganggap semuanya berlapang dada dan baik - baik saja. Tapi ternyata wahai kawan itu tidak benar. Ternyata masalahnya berlanjut.

Pagi - pagi sekali Pak Komisaris, orang yang saya hormati setelah orang tua saya, datang ke meja saya. Dia datang dan tentu bersama menantunya itu.
"Mas, bagaimana dengan penanganan air kita?" Tanya Bapak dengan sopan.
Aku yang ditanya seperti langsung gelagepan. Aku berusaha menjawab dengan baik dan apa adanya. Yang menohok ini, pertanyaan Bapak ini kurang lebih sama dengan pertanyaan menantu direktur di email. Gila, dia tidak percaya jawabanku. Dia tidak puas dengan jawaban aku, bapak mertua yang dia bawa. Ampun deh.

Untunglah Bapak percaya jawaban aku dan membenarkan aku. Selamatlah aku pagi itu.

Sejak kejadian terakhir ini, aku mengambil pelajaran. Janganlah aku lebih bodoh dari pada keledai. Keledai saja tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Sejak itu, aku bersumpah dalam hati tidak mau mencari - cari masalah dengan ibu satu ini, sang menantu direktur. Cukuplah kejadian ini. Sejak itu apa - apa yang dikatakannya aku iyakan. Apa - apa yang diminta aku kerjakan. Sungguh aku tidak mau mencari masalah. Sungguh aku masih mau bekerja di tempat ini.

Wednesday, March 11, 2015

Video Karyawan Pulang dari Tempat Kerja




Pada kesempatan ini kami memposting video tentang karyawan yang baru pulang bekerja, berdiri sepanjang trotoar menanti kendaraan umum yang akan mengantar mereka pulang ke keluarga masing - masing.

Kondisi negara kita yang belum mampu menyediakan sarana transportasi massal yang nyaman dan murah. Belum lagi ditambah dengan kemacetan yang belum bisa ditangani semakin menambah derita para karyawan.

Tuesday, January 13, 2015

4 Aktivitas di Media Sosial Yang Bikin Lu Dipecat

4 Aktivitas di Media Sosial Yang Bikin Lu Dipecat
Aktivitas di Media Sosial Yang Bikin Lu Dipecat

Sebagaimana kita yang hidup di zaman teknologi informasi begitu canggih, tentunya kita sangat akrab dengan berbagai macam akun social media. Sah - sah aja aktif di sana - bertemu dengan kawan lama dan mencari kawan baru.
Namun harus diperhatikan bahwa Boss Kita, Atasan Lu atasan Gua juga punya barang yang sama.

Maka berhati - hatilah dalam menggunakan akun media sosial, terkait dengan pekerjaan dan atasan.Kalau tidak hati - hati, Lu bisa dipecat.

Yuk, mari kita kupas satu - satu.

1. Jangan pernah pasang status di facebook masalah boss atau pekerjaan

 

Kalau punya akun facebook dan Lu termasuk "banci status". Sedikit - sedikit pasang status. Sedikit - sedikit pasang status. Lebih baik  jangan  nge-add boss Lu kalau mau selamat.

Kalau pun sudah kadung jadi teman (friend), karena Boss Lu itu teman satu sekolah atau entah bagaimana caranya tahu - tahu sudah jadi teman di facebook, berhati - hatilah pasang status. Terutama status soal Boss dan pekerjaan.

Kalau Lu lagi bete sama Boss dan pekerjaan Lu, terus pasang status di facebook. Siap - siap aja dipecat sama Boss. Mecatnya juga lewat status di FB.

Terus juga kalau Lu lagi nyari - nyari kerjaan, calon Boss Lu akan tahu siapa diri Lu sebenarnya. Dia tinggal ketik nama Lu, muncul deh semua tentang status Lu. Dia bakal mikir dua kali, atau malah tidak mikir sama sekali untuk ngebuang lamaran dan CV Lu ke tempat sampah.


2. Jangan sering - sering meng-update linkedin

 

Linkedin memang penting untuk  membuat jaringan (network) sekaligus mencari peluang kerjaan yang lebih baik. Akun linkedin yang baik adalah yang update. Jangan sampe informasi profesional Lu masih satu dekade yang lalu. Terus fotonya juga ketika dunia masih hitam putih he he he.

Tapi ingat jangan setiap hari Lu update linkedin Lu. Baik itu pasang status, minta endorsement dari temen - temen Lu. Dan gua yakin temen - temen Lu nge-endorse karena ingin membantu meningkatkan daya jual Lu dengan imbalan Lu nge-endorse balik. Simbois mutualisma ceritanya.

Kalau Lu sering update akun Linkedin-nya, Gua sebagai calon Boss Lu, yang lagi mencari - cari profesional berpengalaman akan berfikir : ini orang meng- update linkedin terus. Kapan kerjanya?

Terus kalau kebetulan satu link sama Boss Lu, dia akan curiga karena dapat pemberitahuan update linkedin Lu. Dia mulai berfikir bahwa Lu makan resign atau mengundurkan diri. Terus yang paling parah Lu dipanggil dan dipecat. Buat apa gaji karyawan macam kamu, kalau kerjaannya hanya update linkedin, begitu kira - kira.


3. Jangan (terlihat) terlalu aktif di forum

 

Karena satu dan lain hal ternyata Lu ditakdirkan satu forum dengan Boss Lu. Entah di mailing list, group whatsapp, group BBM dan forum - forum yang lain. Gua sarankan jangan terlihat aktif. Aktif di sini adalah sering posting atau kasih komen atas postingan yang lain. 
 
Tahanlah sedikit untuk posting walau pun tangan sudah gatal untuk membuat postingan.Apalah artinya tidak posting sebentar untuk kemaslahatan jangka panjang ha ha ha (lebay banget).
 
Kalau Lu terlihat aktif di forum, bisa membuat Boss Lu negative thinking soal Lu. Kok rajinnya di forum - forum? Emangnya kurang kerjaan apa? Yang kemarin saja belum kelar, kata Boss Lu sambil ngedumel.
 
Dan tiba - tiba dia datang ke meja Lu bawa setumpuk kerjaan yang kalau Lu kerjaan siang malam juga belum tentu kelar - kelar.

4. Jangan mengupdate blog (ini) di jam kerja

 

Kalau Lu punya blog dan menjadi blogger, berhati - hatilah di dalam mengupdate blog. Terutama di jam kerja. Selain menggangu produktivitas kerja, bisa juga ketahuan sama Boss Lu.

"Hei, ngapain Kamu? Kenapa kamu tulis - tulis soal saya di blog Kamu?" Tanya dia sambil emosi. Kalau sudah begini mau apa? Enggak dipecat sambil dituntut pencemaran nama baik aja sudah untung.

Makanya Gua kalau update blog ini di bukan di jam kerja. Gua masih pengen kerja di tempat sekarang he he he.

So hati - hati ya dengan aktivitas media sosial Kamu.


sumber :https://www.flickr.com/photos/us-mission/7408712526

Tuesday, January 6, 2015

Balada Karyawan #14 Harapan Karyawan Sejati di Tahun Baru



Dear Karyawan Sejati,
selamat Tahun Baru. Mudah - mudahan di tahun ini lebih baik dibandingkan tahun - tahun sebelumnya. Amiin.

Pada postingan kali ini kami sebagai karyawan sejati, ingin menuliskan harapan - harapan di tahun baru 2015 ini. Isinya merupakan kumpulan harapan dari teman - teman karyawan di seluruh dunia. Kalau ada yang ketinggalan, dipersilahkan untuk ditambahkan pada kolom komentar.

Harapan - harapan Karyawan Sejati tahun 2015 :
1. Mudah - mudahan bisa naik gaji.
2. Mudah - mudahan bisa naik pangkat atau grade.
3. Mudah - mudahan mendapat promosi jabatan yang lebih tinggi.
4. Mudah - mudaha di awal tahun ini dapat bonus tahunan 10 kali bulan gaji :p.
5. Mudah - mudahan tahun ini bisa bernafas lega karena sudah diangkat sebagai karyawan tetap.
6. Mudah - mudaha masih ada kerjaan buat kita dan pabriknya tidak bangkrut atau pindah ke luar negeri.
7. Mudah - mudahan sudah bisa nyicil rumah. DP - nya dibayari perusahaan.
8. Mudah - mudahan sudah bisa nyicil kendaraan, biar tidak naik angkutan umum terus - menerus.
9. Mudah - mudahan perusahaan ada kelebihan uang sehingga bisa memberikan fasilitas asuransi kesehatan rawat jalan.
10. Mudah - mudahan liburan tidak hanya di rumah saja, tapi bisa pergi kemana - mana seperti orang - orang.
11. Mudah - mudahan Boss yang super galak, menjadi baik dan penuh perhatian sama karyawan.
12. Mudah - mudahan Boss yang pelit jadi baik hati dan tidak sombong, rajin menabung. Suka kasih hadiah dan traktir - traktir ke bawahannya.
13. Mudah - mudahan Boss yang kiler, dipindahkan ke tempat lain lalu penggantinya yang super baik dan penuh perhatian.
14. Mudah - mudahan bisa pindah kerja dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
15. Mudah - mudahan bisa mendapatkan pekerjaan yang dekat rumah.
16. Mudah - mudahan bisa mempunyai usaha sampingan. Penghasilannya bisa double.
17. Mudah - mudahan bisa punya usaha sendiri dan tidak menjadi karyawan lagi.
18. Mudah - mudahan bisa punya usaha sendiri dan Boss yang menyebalkan dan galak menjadi bawahan saya :p (mimpi kali).
19. Mudah - mudahan bisa menyekolahkan anak - anak sampai tinggi.
20. Mudah - mudahan bisa bertemu keluarga setiap hari. Tidak jauh - jauhan seperti sekarang.
21. Mudah - mudahan bisa dapat lemburan yang banyak.
22. Mudah - mudahan harga BBM jangan naik (lagi).
23. Mudah - mudahan harga barang - barang tiak (jadi) naik.
24. Mudah - mudahan mendapatkan rekan - rekan kerja yang mendukung.
25. Mudah - mudahan bisa mencapai target.
26. Mudah - mudahan selalu sehat wal afiat.
27. Mudah - mudahan bisa punya waktu buat berkumpul dengan teman - teman.
28. Mudah - mudahan bisa bekerja sambil kuliah.
29. Mudah - mudahan bisa update blog ini terus he he he.

Selamat Tahun Baru dan sukses selalu. Amiin.






Thursday, October 9, 2014

Balada Karyawan #13 Menantu Direktur

menantu direktur
Menantu Direktu

Hallo para karyawan sejagat,
pada kesempatan kali ini saya mau menceritakan salah satu atasan yang merupakan menantu Direktur. Kebetulan saya bekerja di sebuah perusahaan nasional modal nasional (PMDN) milik sebuah keluarga. Jadi, Bapak sebagai komisaris, ibu sebagai direktur utama dan anak menantunya sebagai senior manager.

Sebenarnya saya merasa secara keseluruhan keluarga pemiliik/ pemegang saham perusahaan ini cukup baik. Namun yang saya tidak tahan adalah sikap dari atasan saya yang merupakan menantu direktur.

Ada beberapa hal yang saya tidak sukai, antara lain :

1. Menabrak Prosedur
Atasan saya ini suka menabrak prosedur kalau sedang mengejar tenggat pekerjaan. Kalau sekali dua kali dan atas dasar yang kuat mungkin tidak masalah. Sebagai contoh untuk mengejar launching produk, dia memerintahkan untuk melewati uji stabilitas. Alih - alih untuk mempercepat proses malah menjadi memperlama. Karena tidak melewati uji stabilitas, maka kita tidak tahu kestabilan produk di luar sana. Dan yang terjadi adalah, kita harus menarik produk yang kadung sudah dilepas ke pasaran, melakukan rework dan membuatnya lagi. Sudah lama, lebih mahal lagi karena harus ada rework dan produksi ulang. Dan anehnya, atasan saya ini tidak pernah kapok untuk tidak menabrak prosedur yang seharusnya.

2. Melewati Wewenang
Terkadang beliau tidak segan - segan untuk mengintervensi pekerjaan karyawan yang bukan koordinasinya secara langsung tanpa meminta izin atasannya langsung. Hal ini terutama kalau ada sesuatu yang berjalan tidak seharusnya. Dia bisa langsung memberikan instruksi ini itu, padahal bukan wewenangnya. Kalau sudah begini biasanya untuk mencari aman adalah saya mengkonsultasikan dengan atasan saya bahwa saya diminta ini dan itu. Biar deh atasan saya dan dia yang "bernegosiasi".

3. Melempar Tanggung Jawab
Adalah beberapa kasus yang cukup merugikan perusahaan. Misalnya kasus dia menyetujui pembelian barang yang tidak seharusnya, ketika ramai masalah ini diperbincangkan sampai ke atas, dia melemparnya ke bagian purchasing. Ketika ada kasus dia memberi persetujuan kepada bawahan untuk menandatangani kontrak yang ternyata bisa merugikan perusahaan. Ketika ditanya direktur dia tidak mengakui bahwa telah memberikan persetujuan. Pendek kata dia suka melempar tanggung jawab.


4. Jurus Ampuh : Membawa Sang Mertua
Dan terakhir adalah jurus ampuhnya. Kalau instruksi menantu direktur ini tidak kita kerjakan dengan segera, maka dia akan membawa jurus ampuh : membawa mertuanya alias direktur untuk menegur kita. "Mas, mengapa perintahnya Bu xxxx tidak dikerjakan? Ada masalah apa?" Tegur sang direktur.
menantu direktur
Menantu Direktur

Walau pun nadanya sopan, kalau ditegur direktur ya saya takut juga. Karena dia yang menggaji saya. Kalau sudah begitu buru - buru instruksi dari Bu xxxx tersebut saya kerjakan.

Cukuplah empat hal sifat atasan saya ini. Mudah - mudahan atasan saya ini berubah. Karena apa yang dilakukan tidak baik untuk dirinya dan perusahaan, apalagi dia menantu direktur. Apakah anda memiliki pengalaman yang sama dengan saya?




sumber gambar : http://morguefile.com

Monday, September 22, 2014

Balada Karyawan #12 Doa Seorang Karyawan


Ya Alloh minggu – minggu ini saya mau menghadiri acara reuni bersama teman – teman ketika kuliah dulu.
Sebenarnya saya senang sekali. Karena sudah lama tidak bertemu muka dengan mereka. Selama ini komunikasi hanya lewat telfon, SMS, WA dan facebook.

Namun, Ya Alloh selain senang saya juga merasa sedih. Sedih akan kondisi saya.

Mengapa saya merasa sedih?

Karena di reuni kali teman – teman akan datang dengan mobilnya masing – masing. Memakai pakaian terbaik dan membawa istrinya yang terlihat kinclong juga. Semua orang tercitrakan sukses dan telah mencapai sesuatu.

Sedangkan saya, masih naik kendaraan umum. Harus naik dua tiga kali bus, angkot dan metromini untuk ke tempat acara.

Sebenarnya buat saya ini tidak masalah. Namun yang saya permasalahkan adalah terkadang orang lain, teman – teman saya memandang sedih melihat kondisi saya. Apakah semenyedihkan itukah kondisi saya?

Tidak punya mobil. Tidak punya tabungan pendidikan. Tidak punya asuransi kesehatan yang layak. Tidak punya tabungan haji. Boro – boro untuk beli saham atau emas antam sebagai investasi.

Memang sesuatu sekali di zaman sekarang orang tidak punya mobil.
Memang sesuatu sekali di zaman sekarang orang tidak punya proteksi atau asuransi.
Memang sesuatu sekali di zaman sekarang orang seusia saya belum buka tabungan haji.

Memang sesuatu saya itu.

Terkadang saya bekerja lebih keras dan lebih lama dari teman – teman, namun apa yang saya dapatkan lebih sedikit dari mereka.
Terkadang buat saya masih sulit untuk bergerak. Bersenang – senang atau sekedar keluar rumah di akhir pekan. Namun kondisi saya segini – gini juga.

Saya berusaha mensyukuri hidup.
Di saat orang bisa mengeluh kondisi pekerjaannya, padahal pulang ada jemputan, istri melahirkan ditanggung perusahaan, anak sakit ditanggung perusahaan. Kalau kerja lemburan gajinya bisa belasan juta. Sedangkan saya masih kebalikan semua itu.

Benar ya Alloh, saya berusaha mensyukuri hidup.
Di saat orang mengeluhkan pekerjaannya namun pulang masih bisa sore hari, sementara saya pulang selalu dalam keadaan gelap.

Karena saya tahu masih banyak orang yang belum punya pekerjaan.

Ya Alloh hamba ingin punya mobil. Gak usah baru gak apa – apa. Second juga tidak masalah. Mobil second metik berwarna hitam yang masih bagus jalannya.

Buat mengajak keliling komplek dan tempat tinggal saya bersama anak dan istri.
Buat mengunjungi orang tua yang semakin sulit waktu dan kemampuan saya untuk mewujudkan.

Ya Alloh berilah kami mobil, insya Alloh untuk kebaikan bukan hal – hal yang tidak bermanfaat.
Ya Alloh kabulkan doa saya, seorang karyawan yang bekerja keras (60 jam per minggu) namun belum bisa membeli mobil. Amiin.

Monday, September 1, 2014

Balada Karyawan #11 Karyawan yang Galau

Sebagai seorang karyawan suka merasakan kegalauan dalam pekerjaan. Terjebak antara harus bersikap profesionalisme dan memenuhi tuntutan hidup.

Kita ingin sekali bekerja dengan profesional, sungguh - sungguh, namun semuanya bisa hilang karena gaji dan fasilitas yang tidak mencukupi. Memang gaji tinggi bukan segala - segalanya, tapi tapi gaji yang cukup bisa mengganggu konsentrasi bekerja kita.

Kita jadi sering bertanya, buat apa kerja capek - capek sampai larut malam, sampai bawa kerjaan ke rumah. Sampai akhir pekannya terganggu karena pekerjaan, namun gaji dan fasilitas tidak bisa menutupi semua kebutuhan. Tidak usah berfikir ingin mobil atau yang lainnya.

Ingin sekali pindah kerja, namun apa daya belum ada kesempatan dan tawaran yang lebih baik. Mau tidak mau harus tetap di sini. Kalau begini sampai kapan?

Kalau ini namanya karyawan galau. Apakah Anda pernah galau seperti saya? Ayo berbagi.

Tuesday, August 12, 2014

Balada Karyawan #10 Apakah Saya Atasan Yang Dibenci Bawahan?

Buat para boss - boss, kami yang bawahan mengingatkan untuk introspeksi diri : Apakah Anda sudah menjadi atasan yang disukai bawahan? Apakah Anda menjadi atasan yang dibenci bawahan?

Gampanglah kalau ingin tahu apakah kita disukai atau dibenci bawahan. Di bawah ini adalah tingkah laku teman saya yang tidak suka dengan atasannya :

1. Pura - pura diskusi serius soal produk dengan rekan kerjanya, agar menghindari meeting dengan atasannya.

2. Rela bertumpuk - tumpuk di mobil asal tidak satu mobil dengan atasannya kalau mau mengunjungi supplier.

3. Tidak membalas email ajakan liburan bersama di Bandung, karena sama - sama lagi pulang kampung ke Bandung. Bayangkan diajak senang - senang saja tidak mau.

4. Menolak panggilan (miscall) dari atasannya.

5. Selalu membicarakan atasannya di belakang.

Tentu tindakan teman saya dan rekan - rekannya ini bukan tanpa dasar. Bisa jadi dalam bekerja atasannya ini mempunyai karakter yang kurang baik. Seperti gampang marah atau suka melempar tanggung jawab kalau ada kesalahan.

Mungkin kalau satu dua kali bawahan maklum. Namanya juga manusia tidak ada seperti. Tapi kalau berkali - kali, ini apa namanya.

Mudah - mudahan atasan teman saya kalau baca ini jadi sadar dan bisa menjadi atasan yang disukai bawahan. Bagaimana dengan Anda?

Monday, July 7, 2014

Balada Karyawan #9 Boss Bertarung Lawan Boss Karyawan Mati di Tengah - tengah

Gajah Bertarung Lawan Gajah

Hallo karyawan sejati , pernah tidak menghadapi kemauan boss yang berbeda - beda? Misalnya boss A meminta kita hadap kanan, sedangkan boss B meminta kita hadap kiri.

Teman saya pernah mengalaminya. Boss pertama meminta dia bekerja dengan metode A. Boss yang kedua meminta bekerja dengan metode B. Yang membuat jadi masalah adalah metode A lari ke barat dan metode B lari ke timur. Kedua - duanya tidak bertemu; bertolak belakang.
Dan yang membuat jadi masalah lagi adalah untuk mengerjakan satu metode saja, sudah menghabiskan jam kerja dia semuanya.

Sebelum mengerjakan metode - metode tersebut, teman saya ini menjelaskan kalau sudah mengerjakan A, maka mengerjakan B menjadi sia - sia. Karena keduanya bertolak belakang.

Lalu apa jawaban bossnya. Tolong kerjakan, karena saya minta. Jleebbb.

Ya sudah karena tidak ada pilihan kedua - duanya dikerjakan. Dan tahu tidak karena tidak tahan, maka akhrnya teman saya ini minta dimutasikan ke bagian lain. Sebelumnya dia sering tidak masuk karena sakit - sakitan.

Gara - gara boss bertarung lawan boss yang menjadi korban adalah karyawan.

Monday, May 26, 2014

Balada Karyawan #8 Hari Kejepit Nasional (HARPITNAS)

Harpitnas atau hari kejepit nasional adalah hari ditunggu - tunggu oleh karyawan. Hari kejepit nasional adalah dimana ada satu hari masuk kerja yang diapit oleh dua tanggal merah/ hari libur. Biasanya jatuh pada liburnya jatuh pada hari selasa atau jatuh pada hari kamis. Hari senin dan hari jum'atnya menjadi hari kejepit nasional.

Untuk sebagian karyawan momen ini dijadikan waktu liburan yang lebih panjang ; long weekend dengan cara mengambil cuti atau izin tidak masuk pada hari senin atau jumatnya.

Namun tidak semua karyawan bergembira menyambut harpitnas atau hari kejepit nasional. Salah satunya adalah saya. Buat saya harpitnas atau hari kejepit nasional sama saja. Dengan adanya waktu liburan yagn lebih panjang; long weekend saya tetap tidak ke mana - mana. Tidak sebagian orang yang memanfaatkan untuk liburan ke luar kota. Buat saya harpitnas atau tidak, saya tidak akan kemana - mana.

Selama harpitnas saya hanya menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Karena keterbatasan gerak (tidak ada kendaraan) dan keterbatasan daya (uang) maka harpitnas tidak berarti apa - apa. Jadi saya sering tidak memanfaatkan momen harpitnas ini. Lebih baik masuk saja, untuk menambah - nambah penghasilan guna mencukupi kebutuhan primer yang semakin tinggi.

Ini harpitnasku, mana harpitnasmu? Apakah Anda menghabiskan harpitnas seperti saya? Beri komen ya. Terima kasih.

Monday, May 19, 2014

Balada Karyawan #7 (Tidak) Semua Tenaga Ekspatriat Lebih Baik dari Tenaga Pribumi

Pada hari ini kami semua dikumpulkan di ruang meeting oleh salah satu senior manager yang membawahi produk. Dia ternyata tidak sendiri. Di sampingnya telah duduk seorang tenaga ekspatriat; seorang bule yang menebarkan senyum.

Ternyata tujuan kami dikumpulkan adalah untuk diperkenalkan dengan Mr. X (sebutlah demikian) yang akan membantu menangani proyek - proyek perbaikan di perusahaan kami. Kami semua merasa senang ada "pihak luar" yang bisa memberikan pandangan - pandangan ke top management. Bukan rahasia umum lagi kalau top management lebih percaya pendapat "orang luar" apalagi tenaga ekspatriat atau bule dibandingkan "orang dalam". Padahal bisa saja isinya sama persis. Saya juga tidak mengerti mengapa atasan lebih mempercaya pendapat tenaga ekspatriat dibandingkan karyawannya sendiri.

Mula - mula Mr. X banyak berkecimpung di departemen RND. Hal ini bisa dimaklumi, dari ceritanya dia berpengalaman lebih 20 tahun di RND.

Karena merasa puas dengan kinerja, senior manager kami mulai menawarkan jasanya kepada departemen lain. Mula - mula kami merasa tidak membutuhkan, karena selama ini beberapa proyek ter-handle dengan baik. Namun karena atasan kami terus - terusan mempromosikan kemampuan tenaga ekspatriat; lebih tepatnya setengah memaksa, mungkin karena sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membayarnya, kami terpaksa mau mengikuti sesi konsultasi dengan dia.

Awalnya semua berjalan baik - baik saja. Namun kami seperti sadar. Apa - apa yang disampaikan oleh Mr. X bukanlah sesuatu yang baru. Kami sudah mengetahui dan memahaminya. Namun walau pun begitu senior manager kami terkagum - kagum dengan penjelasannya. Karena dia atasan kami, kami pun tidak berani protes.

Puncaknya adalah ketika Mr. X menawarkan beberapa program perbaikan untuk perusahaan kami. Dia memasukkan lewat salah satu senior manager kami yang sangat "kesengsem" oleh Mr. X. Kami semua dikumpulkan dan disodori semua program - program perbaikan dari Mr. X.

Sejujurnya tidak ada program baru yang Mr. X tawarkan. 
Dia menawarkan program GMP, kami sudah menerapkan lima tahun lalu walaupun belum sempurna dan kami perbaiki terus menerus.
Dia menawarkan progam ISO 9001, kami juga sedang menerapkan dan saya menjadi management representative-nya.
Dia menawarkan program restrukturisasi di departemen produksi, rekan saya yang di departemen produksi sana sedang mengerjakan. Dan lain - lain.

Karena sudah tidak tahan, akhirnya kami satu - satu mulai membuka mulut. Kami jelaskan bahwa semua yang dia bawa kami sudah tahu. Apa yang Mr. X tawarkan kami sedang kerjakan. Senior manager kami yang "kesengsem" Mr. X ngotot bahwa yang dibawa Mr. X berbeda. Diskusi yang mula - mula tenang berubah menjadi panas.

Untunglah ada senior manager lain yang lebih waras. Dia mulai menanyakan keberatan kami. Akhirnya kami menjelaskan semua keberatan kami. Dia tidak membawa sesuatu yang baru; dia menawarkan proyek yang jelas - jelas kami kerjakan. Kami tidak mau memakai tenaganya. Dari pada mahal - mahal bayar tenaga ekspatriat yang belum tentu lebih, lebih baik bayar saya aja.

Jadi yang membuat seorang tenaga ekspatriat dibayar mahal adalah karena atasan anda yang percaya, bukan karena kemampuannya. Ini ceritaku, mana ceritamu? Komen dong di sini :)

Monday, April 28, 2014

Balada Karyawan #6 Saya Memang Manager, Tapi...

Saya Seorang Manager

Setiap ada yang bertanya, " Kamu sudah manager ya?"
Saya hampir selalu menjawab : "Belum. Baru staff." Padahal posisi sekarang saya sudah menjadi seorang manager.

Saya malas menjawab "YA" karena akan ada pertanyaan - pertanyaan yang menurut saya tidak perlu.
"Ya. Saya sudah jadi manager."
"Wah hebat dong. Kalau manager dah punya mobil, dong." Ini pertanyaan turunan pertama.
"Naik mobil apa?" Ini pertanyaan turunan kedua.

"Wah kalau manager, gajiny gede dong." Pertanyaannya turunan ketiga.
"Gajinya di atas 20 juta ya?" Pertanyaan turunan keempat. Dan akan diikuti oleh banyaknya pertanyaan - pertanyaan turunan berikutnya.

Bagi saya manager itu hanyalah sebutan saja. Tidak lebih. Saya memang telah menjadi manager, namun kondisi saya sekarang jauh sekali dari persepsi kebanyakan orang tentang manager.

Kondisi saya sekarang adalah dengan menjawab pertanyaan - pertanyaan di atas.
"Sudah punya mobil, dong?"
Jawab saya : "Belum. Saya masih setia dengan motor dan kendaraan umum."
"Naik mobil apa?"
Jawab saya : "Kan sudah saya bilang, eh saya naik angkot."

"Gajinya gede dong?"
Jawab saya : " Tergantung. Menurut saya sih ya begitu..."
"Gajinya di atas 20 juta ya?"
Jawab saya : "Tidak. Gaji saya masih kalah jauh dibandingkan fresh graduate oil company."

Kalau mereka mendengarkan jawaban - jawaban saya. Pasti akan bertanya :
"Yang benar?"
Jawab saya : "Iya. Buat apa saya bohong. Itu dosa."
"Menyedihkan ya?"
Jawab saya : "................................."

Sunday, April 20, 2014

Balada Karyawan #5 Jadi Sebenarnya Yang Salah Siapa Nih?

Setiap minggu selalu diadakan meeting mingguan dengan atasan saya. Isinya adalah untuk membahas kinerja selama seminggu ke belakang, penyelesaian masalah yang ada dan rencana - rencana ke mau dikerjakan.

Untuk memudahkan meeting hari jum'at sebelumnya kami mengirimkan laporan mingguan untuk dibaca oleh atasan saya. Sehingga ketika bertatap muka, tinggal pada inti - inti permasalahannya saja. Sehingga meeting bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

Membuat laporan untuk atasan merupakan seni tersendiri. Kita harus membuat laporan yang menarik karena seperti yang kita maklumi atasan adalah sosok mahluk yang sangat sibuk sekali.

Mengenai bentuk laporan untuk atasan saya mempunyai pengalaman tersendiri.

Pekan pertama
Atasan : Seperti laporan kualitas produk X, belum dimasukkan ya?
Saya    : Maaf, Pak. Iya saya lupa.

Pekan kedua
Atasan : Kok Kamu belum membahas masalah produk Y?
Saya    : Sudah Pak. Sudah ada di laporan yang saya kirim.
Atasan : Ohh...gitu? Coba kamu buat judul laporannya ditebalkan untuk yang masalah - masalah.
Saya    : Baik Pak.

Pekan ketiga
Atasan : Kok, saya tidak melihat bahasan masalah produk Z?
Saya    : Sudah saya masukkan ke dalam laporan. Judulnya sudah dibuat tebal seperti permintaan Bapak.
Atasan : Hmmmm....kalau begitu, judulnya dibuat miring.
Saya    : ???

Beginilah pengalaman saya dalam membuat laporan ke atasan Bagaimana dengan Anda?

Thursday, April 17, 2014

Balada Karyaan #4 Saya Ditegur Atasan Karena Tidak Loyal Ke Perusahaan

Sebagai karyawan, sejujurnya ingin sekali bekerja tidak pindah - pindah tempat. Selain malas untuk adaptasi dengan rekan kerja baru, atasan dan lingkungan yang baru. Apalagi belum tentu mudah mendapatkan pekerjaan itu sendiri.

Namun, karena faktor kebutuhan hidup yang semakin tinggi, anak dan istri yang perlu dinafkahi, maka kesetiaan itu pun ada batasnya. Mulailah hati ini untuk melihat - lihat lowongan pekerjaan baru di tempat lain.

Di satu sisi, atasan tidak ingin kehilangan karyawan terbaiknya. Bukan mau menyombongkan diri, biar jelek - jelek begini saya termasuk karyawan baik di mata atasan saya.

Suatu hari saya diajak bicara oleh atasan saya.
Atasan : Kamu mau lama bekerja di sini kan?
Saya    : Kalau ada yang lebih baik, saya mau pindah. (dengan santainya saya menjawab seperti itu)
Atasan : Wah, enggak bisa tuh. (ternyata atasan saya jadi emosi).
Saya    : Ya bisa saja Pak.
Atasan : Terus pekerjaan Kamu, bagaimana?
Saya    : Saya akan minta satu bulan dari perusahaan baru untuk menyelesaikan pekerjaan di sini.
Atasan : Wah, wah enggak bisa tuh (semakin naik. Untung tidak dipecat)
Saya    : ????

Heran, atasan saya kan bukan Tuhan. Dia kan tidak bisa menjamin 100% bahwa ada pekerjaan untuk saya di sini. Seharusnya dia berfikir kenapa saya berani menjawab seperti itu. Bukannya emosi. Setuju tidak?

Balada Karyawan #3 Saran Atasanku Yang Baik

Boleh dibilang atasan saya, orangnya baik dan perhatian. Di luar masalah pekerjaan, dia suka menanyakan kondisi saya dan keluarga saya, termasuk pendidikan anak - anak saya. Dan tak lupa, sebagai atasan yang baik dia memberikan saran - saran yang baik dalam tanda kutip. Mengapa saya beri tanda kutip? karena  saran - saran itu sangat sulit untuk diterapkan.

Di bawah ini adalah saran - saran dia.
1. Cari rumah yang bagus.
Ketika saya belum punya rumah dia memberikan saran sebagai berikut : kalau cari rumah yang benar. Jangan seperti rumah mertua saya. kena gempa sedikit, strukturnya bergeser. Biaya perbaikannya sama besarnya dengan membeli rumah baru.
Waktu boss bilang seperti itu saya hanya tertawa getir namun hati menjerit : Ya Tuhan, apakah bossku ini tidak tahu rumah yang kualitasnya paling jelek pun, Rumah Sangat Sederhan Sekali pun saya tidak mampu membelinya. Apalagi yang disarankan.

2. Tabungan pendidikan.
Saya punya anak dan belum sekolah. Dia menyarankan saya untuk menyiapkan biaya pendidikan sedini mungkin : Kalau bisa kamu buka tabungan pendidikan. Sisihkan uang untuk biaya pendidikan kamu. Sekali lagi saya hanya senyum getir dan hati menjerit. Ya Tuhan, dia tidak tahu bahwa kami sudah berhemat untuk memenuhi kebutuhan rutin kami. Kami sudah tahu bahwa pendidikan anak - anak itu penting dan menyiapkan biayanya juga penting. Tapi dari mana uangnya? He he he.

3. Sekolah untuk anak - anak
Saat ini saya sedang bingung memilih sekolah yang sesuai untuk anak - anak saya. Dia menyarankan saya untuk memasukkan sekolah di mana anak - anaknya bersekolah. Iseng - iseng buka internet nanya Mbak Google. Ya Tuhan, biaya sekolahnya mahal sekali. Uang pangkalnya hampir 20 juta. Setiap tahun ada uang pendaftaran 3 juta. SPP-nya mahal juga. Itu baru biaya sekolahnya. Belum biaya sosialnya. Bayangkan untuk jalan - jalannya untuk mengisi liburannya ke Turki. Ha ha ha. Ampun ampun saya tidak sanggup. Kalau dituruti bisa - bisa gaji saya habis hanya untuk itu.

Tapi, walau pun begitu atasan adalah atasan yang baik. Tapi, boss lihat - lihat dong kondisi saya he he he.

Monday, April 7, 2014

Balada Karyawan #2 Saya Bukan Boss

Sering kali, beberapa teman memanggil saya dengan sebutan boss."Apa kabar boss?" Dan biasanya secara otomatis saya tersenyum dan hanya mengaminkan. Mudah - mudahan bisa jadi boss sungguhan.

Memang posisi saya sekarang di tempat kerja adalah seorang kepala bagian. Namun masih jauh dari embel - embel boss.

Pernah seorang teman kuliah datang berkunjung ke tempat kerja."Lu, ke sini naik apa?" Teman saya ingin mengetahui naik apa saya berangkat kerja.
"Gua, naik ojek." Jawab saya datar. Teman saya langsung terdiam.
"Hmmmm.... gua juga suka naik ojek. Kadang - kadang ke tempat kerja." Kata - katanya lebih bersifat penghiburan dibandingkan sebuah fakta.

"Tenang, di tempat gua juga banyak orang pindahan Unilever kok." Dia terus menghibur. Maksudnya bahwa kerja di Unilever belum tentu menyenangkan juga.
Saya hanya terdiam. Saya mengalihkan pembicaraan ke yang lain karena ada boss datang ke kami berdua. Jangan sampai ketahuan he he he.

Orang memanggil saya boss, karena mereka terlalu positive thinking. Mungkin dikaitkan dengan kondisi perusahaan kami yang sedang growth - growth-nya. Setiap hari iklan dan nama brand kami terpampang hampir di semua acara di semua saluran televisi.

Kalau saya sebutkan nama perusahaan dan merek kami, pasti kalian akan berfikiran yang sama. Namun, inilah saya. Seorang kepala bagian yang kalian sendiri tidak akan percaya kalau tidak sendiri. Tapi tidak apa - apa. Saya sudah bisa berdamai dengan diri sendiri. Dalam hati ini selalu ditekankan bahwa mungkin kemampuan saya memang layak dibayar segini; rejeki tidak hanya berasal dari gaji dan lain - lain. Saya tidak ingin kondisi saya sekarang membuat saya menyalahkan Tuhan, seseorang, keadaan dan apa saja. Bagi saya ya sudah nikmati saja semua. Mudah - mudahan ada jalan keluar bagi saya dan keluarga saya.

Saya sudah tidak marah. Cuma kadang - kadang saya suka merasa sedih dengan kondisi saya ini. Tetapi sejujurnya saya sudah tidak marah lagi. Seperti halnya ketika mau ketemu teman - teman SMA, ketika saya menelpon alamatnya dia bertanya. "Lu ke sini naik motor apa naik mobil?" Tanyanya.
Saya dengan datar menjawab, "Gua naik angkot."

Teman saya ini baik, dia berusaha menghibur saya."Tenanglah nanti kalau perusahaan Lu semakin besar, Lu juga bakalan naik."
Sejujurnya saya tidak tersinggung atas pertanyaannya dia. Saya sudah kebal. Dan teman saya tidak salah. Cuma kadang - kadang kalau tidak punya mobil, orang - orang suka memandang sebelah mata saya. Tapi tidak apa - apa.

Perusahaan saya sedang berbenah. Renovasi kantor dan pabrik dilakukan besar - besaran. Perluasan bangunan untuk peningkatan kapasitas produksi dilakukan. Ketika melihat master plan-nya, saya tertegun. Di sana ada tempat parkir yang cukup luas. Entah kenapa dalam fikiran saya, sepertinya saya tidak akan pernah punya mobil kalau terus - terusan bekerja di sini. Saya tidak bisa melupakan janji atasan saya dulu - dulu. Saya akan punya kendaraan di tahun kelima. Sekarang, saya hampir sembilan tahun bekerja, alhamdulillah baru punya motor. Tidak apa - apa, saya selalu berkeyakinan bahwa rejeki itu tidak hanya gaji, dan Tuhan Maha Kaya.

Rekan - rekan, doakan saya agar saya bisa pindah bekerja. Mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik. Mengembangkan diri lebih luas lagi,  Kesempatan karir yang lebih baik. Amin. Saya tidak ingin kalian bersediah, cukup doakan saya.

Wednesday, March 26, 2014

Balada Karyawan #1 Makan Nangka, Dia yang Makan Buahnya Kita yang Kena Getahnya

Salah satu sifat atasan yang tidak disukai bawahan adalah ketika ada kesuksesan atau keberhasilan dalam tim, atasan kita mengklaim karena dia. Namun kalau ada masalah atau kegagalan, dia kabur dan melemparkan begitu saja kepada anak buahnya. Yang paling parahnya adalah kalau dia melemparkan kesalahan yang dia perbuat ke bawahannya. Ibarat pepatah ketika makan nangka, dia yang makan buahnya, kita yang kena getahnya.

Hal pernah dialami oleh seorang karyawan perusahaan FMCG di bilangan Jakarta. Sebutlah Wati Kakak Budi. Pada suatu hari, dia mendiskusikan isi kontrak kerja sama dengan atasannya.
"Saya setuju dengan isi kontraknya." Kata atasannya."Udah, tanda tangani saja."Imbuhnya.
"Enggak apa - apa Bu saya yang tanda tangan?"Tanya Wati Kakak Budi.
"Enggak apa - apa."Jawab atasannya.

Sebelum kontrak yang sudah ditandatangani dikirim ke pihak ke-2, sang Direktur sempat membaca isi kontrak tersebut. Kebetulan Bapak Direktur pernah bekerja di perusahaan - perusahaan besar multi national company baik barat maupun Jepang.
Begitu membaca isinya mukanya merah. Apalagi ketika kontrak tersebut sudah ditandatangani dan siap dikirim. Dia marah besar. Ternyata kalau isi kontrak itu dijalankan akan memberikan kerugian yang cukup besar di kemudian hari.

Dipanggilnya Wati Kaka Budi untuk mempertanggungjawabkannya. Dengan polosnya Wati menjawab kalau kontrak itu sudah disetujui oleh atasannya langsung. Dan atasan langsunya juga yang minta dia menandatangani kontrak tersebut.

Atasannya Wati, sang manager dipanggil juga untuk menghadapi.
"Mengapa Kamu menyetujui dan meminta Wati untuk tanda tangan kontrak ini?" Tanya direktur."Kamu tahu isinya sangat tidak menguntungkan perusahaan."
"Mmm. saya tidak menyuruh Wati untuk tanda tangan."Jawab sang manager. Jawaban ini mengejutkan Wati. Dia tidak menyangka atasannya tidak mengakuinya.
Wati langsung membantahnya. Dia menandatangani karena diminta sang atasannya. Namun atasannya tetap bersikukuh tidak pernah menyuruhnya untuk menandatangani.

Wati terdiam. Dia berada dalam waktu dan situasi yang salah. Dia pasrah saja. Pak Direktur langsung memarahi habis - habisannya. Waktu terasa lama di dalam ruangan itu, dan tak terasa ada cairan bening mengalir dari matanya.

Benar - benar keterlaluan, makan nangka, dia yang makan buahnya, kita yang kena getahnya.

Comments system

Disqus Shortname