Showing posts with label atasan yang baik. Show all posts
Showing posts with label atasan yang baik. Show all posts

Tuesday, September 1, 2015

10 Hal Agar Kesalahan Umum Ini Tidak Terjadi

Seorang manajer baru akan berjalan melalui kurva belajar yang menawarkan sangat sedikit kesempatan untuk uji coba. Apakah kita sedang memimpin 6 karyawan atau seluruh departemen, keterampilan manajemen yang baik adalah suatu keharusan.

Manajer diharapkan untuk bertindak dengan cara tertentu dan bertanggung jawab untuk orang lain, sesuatu yang tidak terjadi pada karyawan biasa. Tetapi sebagai pimpinan, kita adalah orang yang menetapkan tenggat waktu, mendistribusikan beban kerja dan mengevaluasi bagaimana karyawan melakukannya.

Dalam beberapa hal, kita bertanggung jawab untuk mengelola kehidupan, setidaknya selama jam kerja.

Jadi agar sebagian besar tugas selesai – dengan cara yang benar – beberapa kesalahan umum harus dihindari. Untuk itu pertimbangkan beberapa saran berikut ini tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk manajer pemula.

Dengarkan karyawan kita

Seorang atasan harus memahami bahwa karyawan juga manusia, dan mereka tidak bisa diperlakukan seperti benda yang menuruti perintah. Karyawan mungkin marah jika mereka ditempatkan, kesal jika mereka kehilangan kunci, atau tertekan saat mengalami putus cinta.

Tips : Dengarkan apa yang diinginkan karyawan dan kembangkan hubungan di luar atasan dan bawahan. Suasana kerja akan membaik melalui hubungan erat ini dan produktivitas akan meningkat.

Buatlah daftar tugas

Berkembangnya perusahaan kita berarti lebih banyak waktu lagi yang dihabiskan untuk mengorganisir dan berpikir ke depan daripada melakukan tugas-tugas padat karya. Oleh karena itu, susunan pekerjaan sangat penting karena kita bertanggung jawab untuk menyelesaikan sesuatu dan jika kita gagal melakukannya maka banyak hal yang tidak selesaikan.

Tips : Cetaklah daftar tugas mingguan untuk diisi dengan tugas sehari-hari, proyek yang sedang berlangsung dan pekerjaan yang tidak terduga.

Menangani tugas-tugas yang mendesak…secepatnya

Ini sejalan dengan konsep daftar tugas. Jika kita harus menyelesaikan sebuah memo internal tentang tempat istirahat kantor dan membuat reservasi untuk makan malam klien luar negeri yang penting, mana yang akan kita dahulukan? Yang terakhir tentu saja.

Memperbaiki server kita untuk memastikan orang dapat mengakses website kita adalah lebih penting daripada menelepon departemen akuntansi menanyakan tentang perbedaan 100 ribu rupiah dalam laporan keuangan perusahaan – jadi belajarlah untuk memprioritaskan.

Tips : Selalu berpikir bahwa tugas yang dilakukan saat ini adalah salah satu tugas yang paling mendesak dan harus diselesaikan saat itu juga.

Mengalokasikan waktu senggang

Meskipun menangani urusan mendesak adalah keharusan, menjadwalkan 10 – 15% dari hari kita untuk “waktu improvisasi” adalah yang utama. Bahkan disaat kita sedang sangat sibuk menyusun proposal, berurusan dengan pelanggan yang sedang marah di telepon tentunya tidak bisa menunggu.

Tips : Belajar dari kesalahan kita dan dengan cepat kategorikan urusan mendesak lebih dulu daripada masalah yang umum. Jadilah seorang manajer sebaik mungkin.

Selalu miliki cadangan

Memiliki rencana darurat artinya kita harus berada empat langkah di depan dari segala kemungkinan, seperti permainan catur. Merencanakan ke depan dan menutupi “belakang” kita adalah ciri-ciri manajer yang baik.

Apa yang kita lakukan jika karyawan terbaik kita memutuskan untuk menerima pekerjaan lain dengan gaji yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik? Apakah kita membiarkannya pergi dan mencari karyawan baru atau kita membuat sebuah tawaran balik?

Tips : Miliki daftar pengganti untuk setiap posisi. Ini penting memiliki cadangan untuk kekosongan posisi saat karyawan kita memutuskan berhenti dari pekerjaan, daripada kita harus mulai mencari karyawan-karyawan baru lagi.

Jangan menganggap karyawan sebagai perpanjangan diri kita

Banyak orang selalu ingin berhubungan dengan orang-orang yang seperti diri mereka, terutama dalam dunia usaha. Seorang manajer lebih suka bekerja dengan seseorang seperti dirinya, karena kemudian dia tahu apa yang diharapkan.

Tips : Berikan perhatian pada orang-orang yang tidak melakukan sesuatu dengan cara kita, mereka mungkin benar-benar aset, karena dapat memperkenalkan cara berpikir yang baru yang dapat memperluas cara tradisional kita dalam melakukan sesuatu.

Berpikir di luar kebiasaan

Melakukan hal-hal berbeda artinya kita terus menerus berpikir untuk memperbaiki diri dan teknik kita di tempat kerja. Apakah itu selama meeting produksi atau selama perencanaan pajak akhir tahun kita.

Tips : Jangan berpikir bahwa satu-satunya jalan dari A ke B adalah jalan lurus. Sebuah jalan memutar, bahkan jika itu bukan rute terbaik, sering membuat pemikiran kreatif yang mana itu merupakan tujuan utama seorang manajer.

Miliki karyawan kepercayaan

Melakukan segalanya seorang diri tampaknya mustahil karena semakin banyak tumpukan pekerjaan diatas meja kita. Dan seperti para mafia, memiliki orang kepercayaan dapat meringankan tugas kita dan mengajarkan kita untuk mempercayakan tugas-tugas penting kepada bawahan.

Tips : Membangun hubungan dekat dengan orang kepercayaan akan membantu kita menyelesaikan tugas-tugas dengan lebih cepat.

Bersikap serius

Bagaimana kita mengharapkan orang lain mendengarkan jika kita sendiri tidak yakin dengan yang kita katakan? Bersikap serius artinya kita harus percaya dengan apa yang dapat kita lakukan, terutama jika ingin terwujud.

Tips: Selalu persiapkan dan rencanakan ke depan sebelum membuat keputusan karena untuk situasi tertentu tidak mengijinkan adanya kesalahan.

Jangan takut melakukan kesalahan

Tidak membalas panggilan telepon atau lupa menkitatangani cek untuk tujuan inventaris dapat menjadi kesalahan mencolok di mata karyawan. Tetapi dengan menunjukkan kepada karyawan bahwa kita pun melakukan kesalahan akan menyadarkan mereka, bahwa kita adalah orang yang dapat menerima kesalahan, dalam batasan tertentu, selama itu berfungsi sebagai pengalaman belajar satu kali.

Tips : Jangan bersikap terlalu lunak saat karyawan meminta maaf atas kesalahan dalam tugas-tugas mereka. Jika kita berhasil membuat mereka paham agar tidak melakukan kesalahan lagi, kita akan membuat mereka belajar lebih banyak hal.

Beberapa tips diatas akan membantu meringankan beban kita saat menjadi seorang manajer. Cukup simpan dalam pikiran dan ingat aturan emas ini : “perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain.”

Monday, August 31, 2015

Bawahan Kurang Inisiatif? Bisa Jadi Atasan Tidak Mau Memberikan Wewenang

Mulai hari ini, setiap memandang wajah atasan di kantor selalu dalam keadaan mendung. Mukanya berlipat - lipat. Ada kesalahan sekecil apa pun yang terjadi, beliau langsung meledak.

Usut punya usut sang atasan, sebagai salah satu pucuk pimpinan perusahaan, sedang merasa marah dan kesal terhadap para bawahannya. Menurutnya para bawahannya ini minim inisiatif dan tidak berani mengambil tanggung jawab. Segala keputusan, dari yang besar sampai kecil dibebankan kepadanya; dimintakan keputusan kepadanya.
"Buat apa, mereka digaji besar kalau masalah seperti ini tidak berani memutuskan." Demikian menurutnya.

Ketegangan dan kepusingan yang dialami oleh sang atasan disebabkan oleh pertumbuhan (growth) perusahaan yang begitu pesat, sampai - sampai personil perusahaan belum mampu mengimbanginya. Atasan saya sering mengibaratkanya begini : kita ini seperti anak kecil tapi mainannya sudah mobil BMW. Coba bayangkan betapa mengerikan seorang anak kecil membawa mobil kemana - mana. Bisa tabrakan dan mengalami kecelakaan. Kalau perusahaan yang ukurannya sudah besar tetapi cara pengelolaannya tidak mengalami perubahan, bisa - bisa perusahaan bisa mengalami kebangkrutan.

Bisa saja sang atasan berpendapat seperti itu. Tapi kalau kita runut ke belakang, apakah atasan sudah menyiapkan para bawahannya untuk menghadapi pertumbuhan yang demikian pesat? Apakah dia mulai berani mendelegasikan beberapa wewenangnya kepada bawahannya? Kalau itu belum terjadi, maka tidak ada alasan untuk sang atasan untuk mencap bawahannya tidak mempunyai inisiatif dan takut mengambil resiko.

Tidak semua atasan mau mendelegasikan wewenang pekerjaan. Karena hal akan merepotkan dia karena bawahannya yang masih dalam proses belajar. Bisa jadi waktu pekerjaannya banyak tersita untuk membimbing dan mengarahkan bawahannya yang masih belajar. Belum lagi resiko kerugian kalau sang bawahan salah mengambil keputusan.

Namun dengan berkembangnya bisnis dan berkembangnya ukuran perusahaan termasuk kompleksitasnya, maka mau tidak mau atasan harus berani mendelegasikan sebagian wewenangya, karena kalau segala sesuatu bertumpu pada satu orang akan membuat respon organisasi terhadap segala sesuatu masukan dari luar akan lambat; keputusan - keputusan tidak bisa dikeluarkan dengan segera. Dan jujur saja, tidak ada superman yang ada superteam.

Biarkan Bawahan Melakukan Kesalahan 

Keengganan atasan mendelegasikan wewenangnya adalah ketakutan bawahan melakukan kesalahan. Sebagai contoh kasus adalah, ketika ada seorang bawahan yang melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan, maka yang biasanya atasan akan berkata : mulai hari ini, setiap keputusan harus melalui persetujuan saya! Alih - alih menyelesaikan masalah ini hanya  menimbulkan masalah baru.

Yang terbaik adalah, biarkan bawahan melakukan kesalahan. Tanpa dimarahi pun mereka sudah belajar langsung dari kesalahannya. Kita lihat saja kesalahannya, apakah ini kesalahan yang tidak disengaja karena ketidaktahuan atau kesalahan yang disengaja - karena mereka tidak mau bersusah - susah mencari informasi dalam memutuskan. Kalau kesalahan ini tidak disengaja, biarkan saja.

Tidak Diberikan Wewenang

 Jangan melihat pada faktanya saja : bawahan tidak mempunyai inisiatif. Tapi lihat latar belakang yang mendasari. Bisa jadi karyawan memang tidak diberikan wewenang untuk mengambil keputusan terhadap suatu hal. Paling mudah adalah, lihat pada job description mereka. Dicantumkan tidak wewenang apa saja yang ada pada mereka? Kalau tidak, bawahan pun enggan melakukannya karena takut masalah yang timbul di kemudian hari. Berniat baik untuk membereskan sesuatu, bisa - bisa dituduh mengambil tindakan di luar wewenangnya.

Luangkan Waktu

Buat para atasan, luangkan waktu Anda untuk mendidik para bawahan dalam melaksanakan wewenangya. Memang di awal akan cukup menyita waktu Anda. Namun kalau sudah berjalan, maka mereka, para bawahan, akan men-support kerja Anda dengan baik, sehingga kinerja Anda akan menjulang tinggi. Anggaplah ini sebagai investasi dunia akhirat. Kalau investasi berhasil, kinerja Anda akan naik dan mendapatkan penghargaan dari perusahaan serta kepuasan batin karena bisa meningkatkan kemampuan bawahan. Dan ini yang tidak ternilai harganya.

Kalau pun Anda gagal dalam mendidiknya, Anda bisa mengevaluasi dan menjadikan semakin matang dalam meng-coaching bawahan. Pada akhirnya tidak ada ruginya, betul tidak?














Saturday, June 20, 2015

Hentikan 18 Hal Ini Jika Anda Ingin Menjadi Atasan yang Lebih Baik

Hentikan 18 Hal Ini Jika Anda Ingin Menjadi Atasan yang Lebih Baik


Tentukan pada diri kita segera, apakah kita termasuk atasan yang baik atau tidak? Bagaimana caranya? Caranya cukup mudah. Kita hanya tinggal menelaah ke-18 tanda - tanda di bawah ini.

Ya, kalau kita menemukan tanda - tanda tersebut di diri kita, maka kita termasuk atasan yang buruk. Jika kita ingin menjadi atasan yang baik maka saran kami segera hentikan dan lakukan perbaikan!

Ke-18 tanda - tanda tersebut antara lain.

1. Merasa Tidak Pernah Salah Sama Sekali

Mengakui kesalahan kita akan meningkatkan keterlibatan bawahan dalam pekerjaan. Karena siapa pun bisa berbuat salah. Akui kesalahan kita sehingga setiap orang (termasuk kita dan tim) dapat belajar dari kesalahan ini.

2. Mengubar Janji

Kita sebagai atasan jangan gampang mengumbar janji - janji. Janji untuk memberikan promosi, janji kenaikan gaji, janji pemberian fasilitas dan lain - lain.

Percaya atau tidak, ini dapat diperbaiki dengan cepat. Mulailah melakukan coadhing dengan karyawan kita. Berikan masukan - masukan yang berarti mengenai performance mereka. Selaraskan target pribadi mereka dengan target perusahaan. Berikan kompensasi yang sesuai berdasarkan hasil performance dan kebijakan perusahaan.

3. Berharap Bawahan Harus Sama dengan Kita

Karyawan dipekerjakan dengan membawa nilai masing - masing ke dalam perusahaan. Percayalah akan kemampuan mereka dalam mencapai hasilnya, bahkan jika mereka melakukan berbeda dengan kita.

4. Kebiasaan Menjengkelkan Mengganggu Bawahan di Hari Libur Mereka

Kalau sekali dua kali mungkin sudah biasa. Bagaimana kalau ini sudah menjadi kebiasaan yang menjengkelkan bagi bawahan?

Biasakan untuk meminta laporan ringkas proyek  dari karyawan sebelum mereka mengambil cuti. Karyawan menghargai perusahaan yang telah memberikan  keseimbangan antara kehidupan dan kerja. Biarkan mereka menikmatinya.

5. Micro manager

Tanyakan dalam diri sendiri: Apakah kita terlalu terlibat dalam kegiatan hari ke hari bawahan kita? Fungsi kita adalah mendorong karyawan agar mereka melakukan sebaik - baiknya dan memastikan mereka mencapai hasil yang diharapkan. Bagaimana mereka melakukannya itu tidak selalu penting.

6. Tidak Mau Menerima Sudut Pandang Bawahan

Sebagai atasan, kita menset prioritas strategi tim kita. Akan tetapi tapi bukan berarti kita tidak mau mendengar pendapat dari bawahan. Tentu kita tidak ingin kehilangan inovasi, ide - ide yang bagus maupun informasi yang penting. Pastikan untuk mencari ide - ide dan opini dari yang lain, termasuk bawahan kita, dalam proses pengambilan keputusan.

7. Mempunyai Anak Emas

Mengistimewakan karyawan yang "mirip Anda" atau mudah diaturnya tidak membuat kita menjadi atasan yang baik. Jika kita berpikir beberapa karyawan Anda perlu mempertajam fokus mereka atau memperhatikan detail - beritahu mereka. Dan kerjakan pada rencana pengembangan untuk mengatasi masalah tersebut.

8. Memberikan Masukan yang Tidak Pada Tempatnya

Agar masukan menjadi efektif, sampaikanlah tepat waktu, spesifik dan jujur. Hal ini juga perlu mempertimbangkan dampak (positif atau negatif) dari bawahan. Berikan masukan secara teratur dan menghindari pernyataan tidak solid seperti, "Kerja yang bagus!"

9. Bersikap Pasif-Agresif atau Mengabaikan Bawahan

Daripada membiarkan isu atau masalah membesar, tangani sejak dini.
Atur waktu untuk berbicara secara pribadi dan harus jelas apa - apa yang mau dibicarakan. Fokus pada satu atau dua area yang perlu ditangani kemudian meminta masukan tentang cara untuk menanggulanginya.

10. Memonopoli Pusat Perhatian

Jangan pernah menganggap semua keberhasilan tim karena kita. Ada bawahan kita yang ikut berperan di dalam. Ada pelajaran sederhana yang bisa dipelajari di sini: Tidak ada "AKU" dalam tim.

11. Selalu Berubah Fikiran

Bawahan kita sudah memiliki banyak tugas yang harus dikerjakan. Hal terakhir yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan adalah kurangnya arahan yang bisa jadi karena selalu berubah fikiran. Coba libatkan bawahan di dalam proses perencanaan untuk menetapkan arahan strategi sebelum pengeksekusian.

12. Cepat Menyalahkan Bawahan Tetapi Jarang Memuji

Ini adalah semua tentang akuntabilitas. Sebagai atasan, tugas kita untuk bertanggung jawab atas segala keberhasilan dan kesalahan mereka. Berikan pujian dan penghargaan seperti halnya mereka melakukan kesalahan.

13. Tidak Memberikan Bawahan Kesempatan Untuk Berkembang

Adakan pertemuan tatap muka dengan bawahan. Tanyakan kepada bawahan apa jenis pekerjaan yang mereka sukai dan berikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan pekerjaan yang belum pernah mereka kerjakan sebelumnya dan membantu mereka membangkun skill baru. Kemudian buat rencana pengembangan untuk menjembatani kesenjangan skill yang ada.


14. Mengabaikan Turunnya Motivasi Bawahan

Jika ada bawahan yang terlihat "menyeret dirinya" untuk bekerja (maksudnya harus bersusah payah untuk melakukan pekerjaan tidak seperti biasanya) dan tidak mempunyai motivasi, maka kita sebagai atasan harus segera menanggulanginya. Lakukan pertemuan tatap muka dan kemudian jelaskan hasil pengamatan kita (bahwa mereka sedang turun motivasinya). Kemudian dengarkan tanggapan mereka. Dari sini kita bisa memberi motivasi dan  membahas penyelesaian masalahnya.

15. Tidak Mendiskusikan Masa Depan Bawahan

Adakan pembicaraan dengan bawahan secara rutin mengenai target karir dan apa yang mereka butuhkan lakukan untuk mencapainya. Berikan gambaran besar mengenai training dan mentoring yang perusahaan tawarkan. Dan tentu saja, tawarkan dukungan materil dan non materil.

16. Mudah Melemparkan Kemarahan

Aura negatif yang kita bawa dapat menurunkan semangat bawahan kita. Usahakan untuk tetap kepala dingin ketika ada tekanan. Ambil nafas dalam - dalam. Perhatikan nada, ekspresi dan bahasa tubuh kita. Apakah terlihat seperti orang yang marah - marah? Kalau iya, maka ambil waktu sebentar untuk menenangkan diri sebelum memulai rapat atau percakapan dengan yang lain.

17. Mengganggap Bawahan Tidak Cukup Bekerja Keras

Adalah hal yang bagus mempunyai pengharapan yang besar terhadap bawahan dan mendorong mereka untuk mencapai target yang lebih tinggi. Namun kita harus memperhitungkan kendala waktu yang ada. Target harus realistis dan dapat dieksekus. Dan ketika ada proyek mendesak yang datang, sesuaikan prioritas fokus mereka.

18.Menjalankan Pekerjaan Dengan Ketakuatan Berlebihan


Apakah dunia benar-benar akan berakhir jika "ini" atau "itu" terjadi?
Mungkin tidak. Semakin percaya diri dan fokus kita, maka bawahan dan tim kita akan semakin percaya diri dan fokus.

Kalau dari ke 18 tanda - tanda atasan yang buruk, maka segera tangani dan mudah - mudahan kita menjadi atasan yang baik.

sumber gambar : https://pixabay.com

Tuesday, September 30, 2014

Tipe Atasan - Atasan Saya

Selama saya hampir 10 tahun bekerja, saya pernah disupervisi dengan berbagai macam tipe atasan. Masing - masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Nah, pada postingan kali ini saya mau menceritakan semua atasan saya. Tentunya untuk kenyamanan semua pihak, termasuk saya, saya akan memakai nama pengganti.



Mr. Harr
Inilah boss pertama saya. Jarak usianya tidak berbeda jauh dengan saya. Orangnya tipe pekerja keras dan rendah hati. Terkadang dia mau direpotkan oleh hal - hal yang bersifat teknis yang bagi sebagian boss lain adalah sesuatu yang tidak disukai. Namun kesukaan mengurusi hal - hal teknis, membuat boss saya ini agak kedodoran di tataran konsep. Seperti halnya dalam menerapkan sebuah sistem (misalnya GMP atau ISO) dia memandangnya hanya penggunaan dokumen belaka. Namun atasan saya ini mau mendengarkan masukan dari saya yang notabene adalah bawahannya.

Mrs. Dewi
Orangnya sangat detail untuk setiap urusan. Kalau belum jelas baginya maka dia akan terus - terusan menanyakan sampai semua jelas dan tidak ada yang terlewat. Pokoknya ampun deh menghadapi atasan yang ini. Namun sayangnya dia tidak tahu mana yang harus di-cerewet-i dan mana yang tidak. Terkadang hal - hal yang tidak penting pun ditanyakan. Jadi seperti buang - buang waktu saja. Pernah saking keselnya menghadapi pertanyaan - pertanyaan dia yang tidak penting, setidaknya menurut saya, saya meninggalkan dia begitu saja. Untung dia tidak marah sama saya he he he.

Mrs. Nurr
Atasan yang satu ini sangat pintar dan mempunyai ingatan yang panjang. Kalau rapat dengan dia, maka siap - siaplah kita menangkap banyak instruksi yang diberikan. Walau pun tidak mencatatanya, dia hapal satu demi satu instruksi apa yang diberikan dan diberikan kepada siapa. Saking cepatnya atasan saya ini berbicara, maka tidak semua instruksinya bisa kami catat. Siap - siap saja nanti mati kutu dan mati gaya ketika ditagih realisasi instruksinya. Paling aman beri jawaban lupa atau segera saya kerjakan. Karena sesungguhnya gua sudah lupa apa instruksinya.
Kalau rapat dengan atasan saya ini siap - siap waktu yang banyak. Karena dia akan banyak bertanya segala tetek bengek. Mulai dari yang konsep sampai teknis, mulai dari apa - apa yang kita kerjakan sampai yang tidak kerjakan. Pernah saya rapat mingguan dengan dia menghabiskan waktu 3 jam.
Karena banyak yang ditanyakan, maka semua bahan, laporan, jurnal, log book dan lain - lain saya bawa ke meja rapat. Dari pada bolak - balik ke meja, lebih baik saya bawa semuanya.

Mrs. Dinn
Untuk atasan yang satu ini no comment - lah. Orangnya sangat semangat dan full speed. Apa - apa ingin segera dikerjakan. Karena hal ini maka sering mengurusi di luar wewenangnya. Selain itu juga agak lemah di lead by example. Bisa jadi dia menggebu - gebu akan suatu hal. Karena dianya menggebu - gebu, maka kita pun ikut - ikutan pontang panting. Setelah itu bisa saja dengan mudahnya dia mengabaikan.
Terkadang saya tidak segan - segan menolak instruksinya. Tentunya dengan cara halus (mau dipecat apa) kalau saya rasa tidak mungkin. Karena saya tahu itu hanya pembawaan menggebu - gebu dia semata.

Mr. Sall
Orangnya lebih muda dari saya. Pintar bahkan cenderung jenius. Wawasannya sangat luas dan visioner. Apa saja nyambung. Namun kelemahannya adalah di lead by example juga. Sebagian orang menganggapnya mempunyai pemikiran konseptual, namun teman saya bilang bukan konseptual tapi impulsif. Kalau pendapat saya sendiri, saya tidak pernah mengerti saya berfikirnya. Mungkin kecepatan berfikir saya tidak menyamai kecepatannya.

Sebenarnya banyak yang ingin saya jelaskan namun lebih baik tidak usah. Takutnya pemaparan saya sudah menyimpang jauh dari kenyataan dan subyektif kebanyakan. Namun dengan berbagai tipe atasan ini jadi ada seni tersendiri dalam menghadapinya. Bagaimana dengan Anda?

https://www.flickr.com/photos/epsos/

Thursday, April 17, 2014

Balada Karyawan #3 Saran Atasanku Yang Baik

Boleh dibilang atasan saya, orangnya baik dan perhatian. Di luar masalah pekerjaan, dia suka menanyakan kondisi saya dan keluarga saya, termasuk pendidikan anak - anak saya. Dan tak lupa, sebagai atasan yang baik dia memberikan saran - saran yang baik dalam tanda kutip. Mengapa saya beri tanda kutip? karena  saran - saran itu sangat sulit untuk diterapkan.

Di bawah ini adalah saran - saran dia.
1. Cari rumah yang bagus.
Ketika saya belum punya rumah dia memberikan saran sebagai berikut : kalau cari rumah yang benar. Jangan seperti rumah mertua saya. kena gempa sedikit, strukturnya bergeser. Biaya perbaikannya sama besarnya dengan membeli rumah baru.
Waktu boss bilang seperti itu saya hanya tertawa getir namun hati menjerit : Ya Tuhan, apakah bossku ini tidak tahu rumah yang kualitasnya paling jelek pun, Rumah Sangat Sederhan Sekali pun saya tidak mampu membelinya. Apalagi yang disarankan.

2. Tabungan pendidikan.
Saya punya anak dan belum sekolah. Dia menyarankan saya untuk menyiapkan biaya pendidikan sedini mungkin : Kalau bisa kamu buka tabungan pendidikan. Sisihkan uang untuk biaya pendidikan kamu. Sekali lagi saya hanya senyum getir dan hati menjerit. Ya Tuhan, dia tidak tahu bahwa kami sudah berhemat untuk memenuhi kebutuhan rutin kami. Kami sudah tahu bahwa pendidikan anak - anak itu penting dan menyiapkan biayanya juga penting. Tapi dari mana uangnya? He he he.

3. Sekolah untuk anak - anak
Saat ini saya sedang bingung memilih sekolah yang sesuai untuk anak - anak saya. Dia menyarankan saya untuk memasukkan sekolah di mana anak - anaknya bersekolah. Iseng - iseng buka internet nanya Mbak Google. Ya Tuhan, biaya sekolahnya mahal sekali. Uang pangkalnya hampir 20 juta. Setiap tahun ada uang pendaftaran 3 juta. SPP-nya mahal juga. Itu baru biaya sekolahnya. Belum biaya sosialnya. Bayangkan untuk jalan - jalannya untuk mengisi liburannya ke Turki. Ha ha ha. Ampun ampun saya tidak sanggup. Kalau dituruti bisa - bisa gaji saya habis hanya untuk itu.

Tapi, walau pun begitu atasan adalah atasan yang baik. Tapi, boss lihat - lihat dong kondisi saya he he he.

Comments system

Disqus Shortname